ORA URUN ORA ENTUK MAIDO
ora urun ora entuk maido, kalau enggak berkontribusi jangan suka nyinyirin jalan orang lain.
Begitulah kira-kira apa yang sering terjadi, ada orang lain yang suka mencampuri kehidupan pribadi orang lain sampai-sampai seakan-akan semua harus ikut standar orang lain tersebut.
Banyak diantara kita yang selalu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan “Kapan nikah?, kapan punya anak? kapan beli mobil?” dan sejenisnya.
Bahkan tak sedikit dari kita yang suka membuat standar-standar untuk orang lain misalnya “Kamu itu kan lulusan S1 Teknik Mesin, harusnya kamu itu kerja di permesinan, bukannya malah kerja sebagai pengurus pondok pesantren lho”
“Itu lho kakak kelasmu, sekarang sudah jadi PNS, kamu kok belum? usia 30 harus punya banyak investasi lho”, “Kamu itu kok kerjanya cuman berjualan sembako, eman-eman mendingan ikut pencalonan kepala daerah saja, nanti biar kamu punya banyak investasi”, “Kalau punya istri itu harusnya istrimu kayak istriku yang kerja jadi dosen, masak alumni S3 teknik nuklir cuman jadi sales online shop”,
“Itu lho Si Najib, usia 28 sudah suksees jadi PNS, kamu kok malah belum mapan dan habis dipecat dari kerjaan segala, makanya kerja yang bener ga usah banyak maen”.
Tak sedikit dari kita yang suka sekali mencampuri urusan oranglain, bahkan rumah tangga orang lain. Seakan-akan kita menjadi manusia yang ideal dan paling benar.
Tak sedikit pula yang tidak tahu menahu tantangan orang lain dan masalah sebenarnya orang lain, eh asal berkomentar miring. Barang kali dari beberapa contoh tadi misalnya S1 Teknik mesin yang jadi pengurus pondok pesantren bener-bener mau mengabdikan diri untuk umat,
atau kawan kita yang belum bisa mobil pun dia sedang berjuang melunasi hutang keluarganya. Kita tak tahu masalah sebenarnya orang lain. Tapi seakan-akan kitalah yang berhak menghakiminya. Kita pun tak andil dalam hidup mereka alias menolong mereka secara nyata kan?
Sekali lagi, “Ora urun ora entuk maido”.
Mencampuri kehidupan orang lain bukanlah hal yang baik menurut saya, daripada terlalu mendikte orang lain alangkah baiknya saling mengingatkan dan saling mendoakan.
Oleh Ary senpai
Penggiat pendidikan, graphic designer & Koordinator Lazis Baiturrahman Wilayah Grobogan
