–Pembelajaran Berbasis Pesawat Kertas–

“Hidup bagai kan pesawat kertas, terbang dan pergi membawa impian,
sekuat tenaga dengan hembusan angin terus melaju terbang.
Jangan bandingkan jarak terbangnya, tapi bagaimana dan apa yang dilalui,
karena itulah satu hal yang penting selalu sesuai kata hari…”

Diatas adalah salah 1 bait dalam lagu Pesawat Kertas 365 hari yang dipopulerkan oleh salah 1 Grup Musik dari Indonesia
yang merupakan sister group dari Jepang.

Makna yang ada dalam lagu tersebut adalah setiap orang punya tantangan masing-masing, setiap orang punya latar belakang masing-masing
dan masalah hidupnya masing-masing. Maka tak elok jika kita menganggap semua pencapaian adalah bagian dari perlombaan.
“30 tahun harus punya mobil, 29 tahun sudah harus jadi PNS” dan lain sebagainya.

Namun yang terjadi di dunia pendidikan kita, baik di dunia pendidikan formal (sekolah), informal (keluarga), dan nonformal (masyarakat)
begitu tidak peduli dengan perkembangan individu yang berusaha untuk tumbuh dalam berbagai tantangannya.
Menganggap semua orang punya kesempatan yang sama dan masalah yang sama serta kemampuan yang sama.

Maka tak heran, akhir-akhir ini banyak pula orang yang selalu pamer pencapaiannya dan merendahkan orang lain.
Banyak pula yang membandingkan pencapaian satu sama lain demi satu kata “sukses”.

“Eh anakku seusia kamu sudah jadi PNS lho..kamu kok belum?”
“Saya seusia kamu sudah bisa mendaftarkan diri menjadi anbhu konoha lho…”
“Halah lulusan S1 Agama sekarang cuman jadi tukang bakso, rugi kamu kuliah, noh anaknya Pak Konohamaru cuman lulusan SMA aja jadi perangkat kecamatan…”
“Noh anak Hyuga Neiji 20 tahun sudah punya tabungan 34 milyar”
“Itu lho kakak kelas kamu, 16 tahun sudah mampu menyelamatkan dunia dari perang dunia shinobi ke 4 dan sekarang dia jadi pahlawan”
“Kerja 3 bulan dapat apa ?”

Betul, hal-hal tersebut adalah salah 1 motivasi (mungkin) namun ada dampak buruk dan dampak baiknya.
Dampak baiknya mungkin bagi mereka ada yang termotivasi, tapi di era sekarang ini , era yang banyak hal-hal yang harus dipenuhi. Semua itu bukanlah motivasi yang positif.
Namun hal-hal yang membuat otak untuk merasakan hal yang tak seharusnya diolah. Ada pula yang malah menjatuhkan rekan kerjanya sendiri agar usia 30 tahun sudah dikatakan “sukses”
ada pula yang curang dalam bekerja. Itu salah 1 efek buruknya, selain itu pemuda jaman sekarang juga “malas” bergaul di real life karena malas dengan perbandingan-perbandingan yang enggak fair.
Bahkan tak sedikit pula yang karena “tuntutan” bunuh diri.

Kita semua dilahirkan dalam keadaan yang berbeda, punya tantangan yang berbeda, ada yang lagi lulus sekolah keluarganya tertimpa masalah,
ada yang lagi seneng-senengnya kerja malah didepak karena dicurangi, ada pula yang kecelakaan saat kerja , dan masih banyak lagi.

“Jangan bandingkan jarak terbangnya, tapi bagaimana dan apa yang dilalui”

Semua memiliki tantangan hidup mereka masing-masing, maka tak elok, jika kehidupan atau pencapaian manusia dianggap sebagai perlombaan.

Semoga semuanya bisa mengambil pelajaran, enggak juga gpp

Oleh : Ary senpai
Penulis Buku Sekolah Membunuhmu, Penggiat Pendidikan, Graphic Designer & Koordinator Lazis Baiturrahman Wilayah Grobogan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *