GENERASI BORUTO!
Beberapa waktu lalu ada sebuah kasus dari salah 1 lembaga amal yang terkena kasus “menilep” dana ummat alias
menyelewengkan dana donasi yang ternyata digunakan untuk kepentingan pribadi. Dan ada juga berita yang tak kalah
heboh yaitu seorang Gus anak dari kyai dari daerah jawa timur yang “melakukan tindakan kurang terhormat”
namun tetap “pertahankan” agar tak ditangkap hingga akhirnya berhasil ditangani pihak berwenang.
Itu baru sedikit saja kasus yang terjadi, beberapa waktu lalu juga ada kasus santriwati yang “dicabuli” oleh
pemilik pondok pesantren.
Dari hal ini banyak dari kita yang “skeptis” terhadap dunia pondok pesantren maupun lembaga amal.
Apakah nantinya enggak usah mondok? apakah enggak usah donasi d lembaga amal? pondok pesantren juga sering ngadain open donasi, apakah enggak
usah nyumbang aja? nanti ditilep, nanti dicabuli santriwatinya.
Kekisruhan di “generasi Boruto” ini memicu banyak kontroversi juga dari hal tersebut.
Di “generasi Boruto” ini banyak terjadi kekisruhan disebabkan oleh orang-orang yang sekedar tau masalah suatu hal khususnya agama
Sehingga banyak muncul masalah sosial :
1. Dai selebritis
2. Dai gaya glamour
3. Dai penipu
4. Dai memperkosa santrinya
5. Dai jadi pengusung ideologi berbahaya
Dan macam2
Terus kita harus ngapain? Terhadap semua ini?
Menurut saya, untuk orang yang hendak mondokin anaknya harus bener-bener selektif dalam memilih pondok pesantren.
Jangan hanya dilihat kualitas pesantren dari “panjangnya” jenggot si pemilik pesantren atau “cerita kesaktian” dari nenek moyang pesantren, tapi juga
benar-benar dilihat track recordnya yang jelas.
Dalam hal donasi pun juga begitu, ya kalau di samping rumah kita atau sekitarnya ada yang membutuhkan, ya ditolong dulu mereka. Kalaupun ada lembaga amal ataupun pondok pesantren
yang meminta donasi ya diselidiki juga apakah lembaga tersebut amanah atau tidak, dan tidak terkait terorisme atau tidak. Benar-benar harus tau track recordnya.
Bagi yang mau mendirikan pondok pesantren atau aktivis dakwah juga hendaknya sudah selesai dengan dirinya sendiri, masak sih mau mendirikan pesantren malah masih ingin berbuat yang enggak baik?
Selain itu kaderisasi pengurus ormas islam yang baik juga berpengaruh, jangan mentang-mentang sudah hafal salah 1 “kitab karya X” langsung dijadikan panutan.
Bagi pengelola lembaga amal, ya sebaiknya amanahlah, jangan cuman cari duit, selain d lembaga amal ya punya pekerjaan lain agar tidak muncul “sikap ingin menilep dana”.
Intinya dari masing-masing pihak harus saling sadar satu sama lain agar tidak terjadi kekisruhan lagi.
Oleh Ary senpai, M.Ag
Penggiat Pendidikan , Graphic Designer & Koordinator Lazis Baiturrahman Wilayah Grobogan
