ERA DISRUPSI, & KOMPETENSI YANG “TIDAK” DIAPRESIASI DUNIA PENDIDIKAN
Banyak yang bilang era ini adalah era disrupsi, era yang katanya harus bisa menguasai lebih dari 1 skill.
Era yang katanya harus mampu siap siaga dalam berbagai tantangan perubahan sosial yang terlalu cepat.
Di era ini kita mulai mleihat banyak hal yang terjadi, mulai dari gaya hidup hingga dunia pendidikan yang benar-benar terpengaruh
dari era disrupsi ini. Jika dahulu kita belajar hanya dari sedikit sumber, sekarang pun kita bisa belajar dengan berbagai sumber maupun media.
Meski pada kenyataannya banyak pula yang masih belum bisa beradaptasi, karena banyak faktor seperti fasilitas maupun corak warga belajar/peserta didik disuatu wilayah.
Ingat, saya kali ini membahas pendidikan secara umum alias dari jalur pendidikan formal, informal dan non formal. Bukan hanya membahas tentang sekolah saja.
Dari era disrupsi ini masih banyak pula pola pikir dan kebiasaan yang sebenarnya tidak konsisten & bersifat “residu”, apalagi dengan adanya “trial” kurikulum baru.
Kok gitu sih?
Ya gitu wkkwkw
Jadi gini gaes. Contoh yah Fresh graduate, yang baru lulus sekolah kejuruan atau anak kuliahan yang baru lulus, dihadapkan dengan lowongan pekerjaan “harus sudah berpengalaman dan multi talenta bisa jujitsu, ninjutsu , hingga rasengan?”
padahal disisi lain ada juga instansi yang mengharuskan “linear” dengan alasan tertentu. Katanya disrupsi tapi malah anu, katanya anu eh malah disrupsi.
Itulah kenyataan dunia pendidikan sekarang yang belum mampu menampung potensi “yang tak terlihat” malah terkesan tak terselesaikan potensi tersebut dan terlalu banyak wacana.
Mau sampai ganti kurikulum 400 kalipun jika corak pendidikan kita (baik formal, informal, maupun nonformal) tak mampu mewadahi dan menyalurkan potensi, maka “trial” kurikulum apapun tetap saja akan gagal.
Contoh ada kasus seorang guru yang alumni jurusan matematika (misalnya) dia mengajar di SMK jurusan yang bercorak seni karena memang dia juga punya keahlian disitu (serta sudah berpuluh-puluh tahun dia punya karya di bidang seni) dan lowongan ngajar di matematika tidak ada.
Kemudian guru tersebut tetap mempertanggungjawabkannya dengan mengikuti sertifikasi kompetensi keahlian dengan segala macam tingkatannya kemudian lulus dan “kompeten”.
Namun tidak dianggap kompeten karena “tidak linear” oleh suatu instansi .
Terus apa gunakanya sertifikasi keahlian? apakah ga bisa dipertanggung jawabkan? terus apa gunanya portofolio karya?
Ada lagi nih,misalnya ada lulusan SMA mendaftarkan diri di pemerintahan kecamatan , ada pula lulusan S1 Ilmu pemerintahan yang juga mendaftarkan diri di pemerintahan kecamatan.
Namun karena “you know lah budaya kita kayak gimana” , si lulusan SMA ini malah dianggap kompeten daripada S1 Ilmu pemerintahan. Dan yang diterima ya si lulusan SMA ini.
Kan malah enggak linear sama sekali donk kalau kasusnya kayak gini.
Bahkan ada pula seorang sarjana pertanian, yang hanya modal mengaji seminggu sekali malah jadi penceramah dan dianggap mampu memecahkan persoalan agama.
Ini kan juga enggak linear kalau “katanya” harus semuanya linear.
Kasus-kasus diatas belum mampu ditampung dan terselesaikan di dunia pendidikan kita, dari pendidikan informal, formal maupun nonformal.
Penyikapan tentang linear dengan jurusan, kompeten dengan keilmuan dan kepercayaan masih belum mampu ditangani secara kompleks.
Terus solusinya apa?
Dari pendidikan informal, nonformal dan formal semuanya berbedah diri, dengan cara apa? Pikir aja sendiri wkwkkw
oleh Ary senpai
Penggiat Pendidikan, Graphic Designer, Koordinator Lazis Baiturrahman Wilayah Grobogan & Penulis Buku Sekolah Membunuhmu
[12.34, 20/8/2022] Hudi Hermawan: SIBUK MENCARI WALI LUPA MEMPERBAIKI DIRI….
Suatu hari Fajar seorang tukang reklame sedang bekerja seperti biasa, tiba-tiba datanglah Gus Kiswantara datang.
“Lho mas fajar, kerja kok gini gini aja to mas?”
“Ya enggak apa-apa to Gus..Namanya juga cari rejeki halal, lagian kerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga kan ibadah, selama dilakukan dengan cara yang baik”
“Wah keren ini Mas Fajar… Tapi langkah baiknya Mas Fajar juga harus zakat atau sedekah ya?”
“Alhamdulillah, doakan ya Gus semoga saya selalu bisa istiqomah zakat karena ini juga baru belajar Gus, baru 5 tahunan ini harta saya masuk nishab zakat”
“Tapi Ya Mas Fajar juga harus berlaku layaknya wali agar dapat karomah di kerjaannya Mas Fajar, selain itu Mas Fajar kalau ingin lebih laris bisa nih minta amalan ke orang yang dianggap wali, bisa dicari disekeliling kita”
“Waduh Gus.. kalau itu saya kurang paham mana yang wali mana yang bukan, saya hanya bisa memperbaiki diri saya agar istiqomah di jalan Allah sesuai kapasitas saya Gus…”
“Wah hati-hati ya Mas Fajar, bisa jadi amalan Mas Fajar ini ditolak lho…”
“Waduuh”
Kita seringkali melihat orang lain yang sedang berusaha merangkak untuk belajar memperbaiki diri dengan cara menakuti mereka melalui berbagai macam cara agar orang tersebut melakukan cara yang sama seperti kita.
Seringkali pula kita melihat jerih payah orang lain dalam berupaya memperbaiki diri kurang sempurna karena dengan cara yang enggak sama dengan diri kita, hingga seringkali menganggap “wah amalmu enggak sempurna jika enggak ikut Gus anu”.
Padahal kita punya kapasitas belajar yang berbeda-beda, dan dengan gaya yang berbeda-beda pula.
Kita pun enggak bisa menyamakan cara belajarnya orang pondok pesantren dengan mereka yang baru belajar mengenal kebaikan kemarin sore. Maka dari itu jika ada orang yang sedang belajar memperbaiki diri ya menurut saya sebaiknya didukung penuh dan didampingi agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan.
Disini yang perlu digaribawahi adalah “Jangan sampai orang lain atau kita terjerumus ke dalam maksiat”. Saling memberi nasehat adalah hal yang baik, akan tetapi hal tersebut ya disesuaikan dengan kapasitas masing-masing dan tidak terkesan menakuti orang lain.
Setiap orang punya cara belajar sendiri, bahkan setiap orang punya cara “unik” untuk mengenal Allah SWT dengan cara mereka sendiri menuju Allah.
Seringkali kita juga lupa bahwa memperbaiki diri untuk terus istiqomah di jalan Allah itu lebih berfaedah daripada berdebat tentang kewalian-kewalian hingga amalan siapa yang tertolak atau amalan siapa yang diterima.
Semua memiliki porsi yang sama dalam hal memperbaiki diri.
Oleh :
Ary senpai, M.Ag
Pengajar & Koordinator Jaringan Lazis Baiturrahman Wilayah Kab Grobogan
