–PEMBELAJARAN BERBASIS GUS SAMSUDIN–

Akhir-akhir ini viral dua nama di medsos yaitu Marchel Radhival & Gus Samsudin.
Marchel radhival yang dikenal sebagai pesulap merah ini “membongkar” praktik perdukunan dari
Gus Samsudin yang menurut pesulap merah adalah hanya trik sulap dalam pengobatannya, dan
bukan merupakan “Sebuah karomah”.

Yang akan saya bahas kali ini adalah, mengapa masyarakat kita meski era sudah merupakan generasi
Boruto masih saja mudah dengan hal-hal yang berbau “sakti” atau masih saja menganggap
bahwa orang yang dianggap sakti tersebut pasti “semuanya benar” yang disampaikan, padahal
seringkali hal-hal yang dianggap sakti tersebut hanyalah bualan saja sehingga menjadi hoax yang tersebar.

Saat saya kecil dulu, beberapa kali menerima selebaran tentang ceramah agama yang intinya
“kamu harus menyebarkan hal ini, jika tidak kamu akan celaka”. Karena saya sendiri tipe orang yang
sering “skeptis” terhadap hal-hal tertentu terutama tentang “kesaktian” dan sejenisnya, ya saya tidak begitu meresponnnya.

Hal ini pun berkembang di era informasi ini, era nya Boruto ini masih saja orang mudah
menerima kabar burung, alias hoax, bahkan menjadikan hoax tersebut sebagai panutan.
Bahkan menghalalkan cara untuk menjadi orang yang dianggap “Sakti” atau “terpandang” dengan jalan
yang menurut saya kurang baik, seperti jual beli jabatan, hingga curang terhadap rekan kerja sendiri.

Mengapa demikian?
Pertama adalah karena sistem pendidikan kita baik formal, nonformal, maupun informal
yang “gitu-gitu aja” meskipun sudah berganti sebanyak 69 tipe kurikulum. Kok gitu-gitu aja?
karena seringkali dalam pendidikan kita tidak ada korelasi antara apa yang diajarkan di sekolah
dengan hal-hal yang akan dihadapi kelak. Kita diajari membaca untuk apa? kita diajari menulis untuk apa?
kita diajari latihan berpidato untuk apa? semuanya seringkali tidak ada korelasi antara
yang ada dalam kurikulum pendidikan dengan praktiknya.

Yang kedua, sistem masyarakat yang “kaget” dan “belum siap” terhadap perubahan sosial.
Masyarakat kita cenderung masih kaget dan belum siap terhadap perubahan sosial,
boro-boro disrupsi, sama perubahan sosial juga belum siap menurut saya.
Kok belum siap? Karena kita terlalu menganggap “Wah” hal yang terjadi namun ga bermanfaat.
Coba deh lihat sendiri, konten pendidikan dengan konten yang enggak mendidik, lebih sering disahre yang mana?
atau konten tentang kesenian dengan hal yang buruk? lebih banyak viewer yang mana?
Sehingga secara tidak sadar masayrakat kita tetap belum siap, sampai kapanpun jika tidak mengubah dari
diri sendiri pun tetap saja kita menjadi masyarakat yang kaget dan enggak siap dalam perubahan
apapun.
Mental-mental ketidaksiapan ini berujung pada hal-hal buruk juga seperti milenial tapi bermental korup,
atau bahkan jadi pejabat tapi curang hingga di masyarakat yang dengan sistem buruk yang abai
terhadap masyarakatnya sendiri.

Darimana berubah? dari diri sendiri , dengan seperti itu kebiasan-kebiasaan baik bisa tercipta

Oleh ary senpai
Penggiat Pendidikan, Graphic Designer, Koordinator Lazis Baiturrahman Wilayah Grobogan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *