Pembelajaran Berbasis “ISEKAI”
Pembelajaran Berbasis “ISEKAI”
Di era yang katanya disrupsi ini banyak inovasi-inovasi baru di bidang teknologi informasi terutama masalah medsos alias media sosial.
Dulu jika mau upload foto atau upload video hanya bisa melalui fesbuk, sekarang malah ada tiktok, musically, youtube dan masih banyak lagi.
Tentunya hal tersebut menimbulkan banyak sekali budaya-budaya baru dalam hal menghabiskan waktu dengan gadget kita.
Saya ambil contoh tiktok dan youtube, banyak sekali konten-konten yang menurut saya bagus dan ada juga konten yang kurang bagus. Konten bagusnya seperti tutorial atau hiburan, konten yang kurang bagusnya ya seperti ngeprank orang atau malah bullying.
Banyak yang masih di usia pelajar seperti SD, SMP, SMA yang mengakses konten tersebut tanpa sepengetahuan orangtuanya atau malah bebas mengakses konten yang kurang baik.
Terus gimana solusinya? Solusinya tentunya mendampingi saat para anak usia sekolah mengakses konten dan mengontrol.
Dari hal tersebut sebenarnya ada celah agar konten-konten yang kurang baik bisa diimbangi, yaitu kita yang memiliki kompetensi khusus atau keterampilan khusus juga membuat konten yang baik pula.
seperti tutorial bikin animasi, tutorial merawat hewan peliharaan,cara bertani, tutorial belajar bahasa asing , majelis ilmu atau kajian ilmiah.
Dengan membuat konten-konten bermanfaat itulah, sebagai salah 1 upaya agar generasi penerus memiliki pengetahuan atau wawasan skill yang lebih baik, enggak hanya bermain medsos tapi tidak mendapatkan kebermanfaatannya.
Apakah harus bikin konten yang rumit? ya enggak juga, sesuai dengan skill kita saja tentunya.
Sehingga dengan budaya seperti itu, saat mereka yang masih usia pelajar ada di isekai (dunia lain) alias medsos, mereka bisa mendapatkan pula skill yang bisa diakses dan lebih bermanfaat, daripada hanya sekedar konten “ngeprank pocong”.
Semoga bermanfaat
Oleh
Ary senpai
Penggiat Pendidikan, Graphic Designer, & Koordinator Lazis Baiturrahman Wilayah Grobogan
