–Ilmu Bukan Doktrin Tapi Kajian–

–Ilmu Bukan Doktrin Tapi Kajian–

Di sebuah padepokan yang belum terjamah kepentingan politik.Ada seorang murid yang menurut kawan-kawan lainnya bebal. Seringkali ia diejek oleh teman-temannya karena dia susah mencerna pelajaran yang diajarkan oleh gurunya,
namun sering ingin tahu apa yang terjadi diluar konteks ajaran yang diajarkan gurunya. Hingga suatu waktu, gurunya meminta murid tersebut untuk menjadi asisten pribadinya, seperti mencuci baju guru, membersihkan kamar mandi gurunya, menyapu halaman padepokan, hingga memijat gurunya saat kelelahan.
Saat si murid bebal ini melaksanakan apa yang guru berikan sebagai tugas, guru juga ikut mendampingi sambil memberi pengarahan yang sebenarnya adalah intisari ilmu yang diajarkan di kelas. Selalu saja seperti itu , bahkan saat memijat gurunya saat kelelahan, sang guru tetap mengajak ngobrol muridnya secara santai dan ternyata mengandung makna dalam.
Bertahun-tahun murid menjadi abdi sang guru, hingga suatu saat sang guru mengusirnya dengan alasan sudah lulus.
“Eh Guru, kok saya sudah lulus? saya kan hanya jadi babu disini?”
“Sudah pergi saja kau…jadilah orang yang bermanfaat dan hiduplah dengan mulia”.

15 tahun berlalu, hingga akhirnya datang serombongan orang ke padepokan itu menemui guru yang sudah tua.
“Guru, saya dan murid-murid hari ini ingin sowan disini. Ilmu yang dari guru sangat luar biasa, ternyata menjadikan saya jadi babu adalah sarana agar saya belajar, guru mengajak ngobrol saya sebenarnya ada banyak ilmu disana”

Apa yang kita ambil dari cerita tersebut?
Yaitu tentang ilmu yang sebenarnya kajian, bukan hanya sekedar hafalan yang diberikan guru ke murid, tapi tentang apa yang harus kita lakukan dengan ilmu tersebut?
Untuk menjadikan manusia lebih mulia? untuk cari duit? atau untuk kebermanfaatan manusia?
Hal-hal seperti ini yang banyak luput dari dunia pendidikan kita, pendidikan kita hanya berfokus pada ilmu sebagai doktrin bukan ilmu sebagai kajian.
Padahal hidup manusia itu dinamis, maka dari itu ilmu alangkah lebih hebat jika proses penyampaian ilmu melalui pendidikannya diajarkan secara kajian, bukan hanya doktrin “ini haram, ini bid’ah, ini dosa”.
Tapi lebih dalamnya tentang manusia sadar secara utuh dalam mempelajari ilmu tersebut.

By : ary senpai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *